Panggung Penghargaan: Tempat Seni Dibela Tanpa Pernah Dibaca
PAREKAS, Acara bertajuk Apresiasi Seniman 2025 digelar di pendopo Sumenep pada Selasa (25/11). Sejumlah seniman menerima penghargaan berupa plakat sebagai bentuk pengakuan dari pemerintah daerah. Dengan penuh kebanggaan, Wakil Bupati Sumenep, K. Imam, menyampaikan bahwa ajang tersebut bukan sekadar seremoni apresiasi, melainkan wujud komitmen pemerintah terhadap karya-karya seni yang lahir di daerah ini.
Namun jujur saja, saya merasa risih. Pertanyaan mendasarnya sederhana: bagaimana mungkin? Sejauh apa sebenarnya pemkab memahami kesenian beserta seluruh kerumitan ekosistemnya?
Kalau kedekatan personal, sekadar nongkrong, mendengar cerita, atau pernah duduk bersama seseorang yang dianggap “seniman” dijadikan tolok ukur, tentu itu tidak cukup untuk memahami dinamika kreatif yang sesungguhnya. Terus terang, semua itu terasa seperti omong kosong belaka.
Sejak dulu—bahkan sebelum saya lahir—Sumenep telah menjadi lumbung seniman, terutama penyair. Ekosistem keseniannya tumbuh secara organik, dinamis, dan berjalan tanpa hambatan berarti. Kesenian di Sumenep telah lama memiliki dua jalur: jalur formal yang berhubungan dengan pemerintah, dan jalur underground yang bergerak bebas sesuai idealisme masing-masing pelakunya.
Dengan sejarah panjang dan perjalanan kesenian yang begitu kaya, para seniman Sumenep tahu betul bahwa seni dapat berjalan beriringan dengan pemerintah—asal ada keuntungan timbal balik. Relasi itu bukan rahasia.
Persoalan baru muncul ketika penghargaan dan pengakuan mulai diberikan tanpa fondasi data yang kuat. Saya tidak tahu siapa yang menjadi “provokator” personal branding para penerima penghargaan itu. Tetapi saya yakin, pemkab tidak memiliki data yang memadai tentang siapa saja yang pernah mengharumkan nama Sumenep lewat karya seni mereka—baik lokal, nasional, maupun internasional.
Kenyataannya, pemerintah daerah tidak benar-benar turun ke bawah untuk melihat denyut hidup kesenian. Dinas yang mengurus kebudayaan pun sering kali sibuk dengan program rutin, bukan dengan pembinaan ekosistem.
Inilah yang membuat acara apresiasi itu terasa hambar: penghargaan yang diberikan tanpa pemahaman mendalam tentang lanskap seni yang sesungguhnya.*



